• Jelajahi

    Copyright © GLOBAL NEWS TV INDONESIA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Adsense

    GNTV INDONESIA

    "www.globalnewstvindonesia.com"
    www.globalnewstvindonesia.com
    www.globalnewstvindonesia.com

    Iklan

    Logo

    Tomas Matang Suri Gerah: Janji Jalan Pasar Matang Suri–Matang Terap Jangan Hanya Manis Di Mulut!

    Pimred GNTV
    Dibaca: ... Last Updated 2026-09-02T07:58:37Z

     


    SAMBAS | GNTV INDONESIA | KALBAR — Kesabaran masyarakat Matang Suri, Desa Matang Terap, Kecamatan Jawai Selatan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mulai berada di titik kritis.


    Persoalan pembangunan dan peningkatan kualitas jalan Pasar Matang Suri–Matang Terap kembali disuarakan. Bertahun-tahun masyarakat menunggu jalan yang layak, namun menurut warga, yang datang justru kembali janji dan janji.


    Hal tersebut disampaikan Azuardi, Tokoh Masyarakat (Tomas) Matang Suri, saat ditemui dan diwawancarai secara eksklusif oleh awak media GNTV Indonesia, Rabu 2 September 2026.


    Azuardi mengaku gerah dengan kondisi tersebut. Menurutnya, masyarakat sudah melewati banyak pergantian tahun, program pembangunan, bahkan pergantian kepemimpinan, tetapi persoalan jalan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat belum mendapatkan penyelesaian yang dirasakan secara nyata.


    “Bertahun-tahun kami menunggu pembangunan jalan yang layak. Tahun berganti, program berganti, bahkan kepemimpinan daerah berganti. Tetapi persoalan jalan ini masih saja menjadi cerita lama,” ujar Azuardi.

    Foto: AZUARDI TOMAS Jawai selatan



    WARGA TIDAK BUTUH JANJI, WARGA BUTUH JALAN


    Azuardi menegaskan, masyarakat Jawai Selatan tidak meminta fasilitas mewah.


    Yang diminta sangat sederhana: jalan yang layak, aman, nyaman, dan mampu menunjang kehidupan masyarakat.


    Jalan tersebut menjadi bagian penting bagi aktivitas warga, termasuk mobilitas masyarakat, perdagangan, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga kegiatan ekonomi sehari-hari.


    Menurut Azuardi, pemerintah harus melihat persoalan infrastruktur bukan semata sebagai proyek fisik, tetapi sebagai bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat.


    “Jangan kami hanya didatangi ketika butuh suara masyarakat. Setelah masyarakat selesai memberikan dukungan, persoalan kami kembali dilupakan,” tegasnya.



    “KAMI BAYAR PAJAK, KALIAN KAMI GAJI”


    Pernyataan Azuardi kemudian semakin keras ketika menyinggung posisi masyarakat sebagai pembayar pajak sekaligus sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan.


    “Kami bayar pajak. Bapak-bapak yang mengurus kami, apa yang bapak pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki, kami yang biayai atau kami gaji kalian,” tegas Azuardi.


    Pernyataan tersebut, kata dia, bukan sekadar kemarahan pribadi. Namun merupakan bentuk kegelisahan masyarakat yang merasa hak mereka atas pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur layak harus diperjuangkan berulang kali.


    Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang pernah berjanji. Pertanyaannya: kapan janji tersebut diwujudkan?


    PEMERINTAH JANGAN BIARKAN ASPIRASI MENJADI ARSIP


    GNTV Indonesia menilai keluhan masyarakat tersebut patut dijawab secara terbuka oleh pemerintah daerah dan instansi teknis terkait.


    Jika pembangunan jalan Pasar Matang Suri–Matang Terap telah masuk dalam perencanaan, publik berhak mengetahui kejelasan program, sumber pembiayaan, tahapan pekerjaan, serta target realisasinya.


    Jika belum masuk dalam program prioritas, masyarakat juga berhak mendapatkan penjelasan mengenai alasan dan kendalanya.


    Sebab, masyarakat bukan sekadar objek pembangunan. Mereka adalah pembayar pajak, pengguna jalan, sekaligus bagian dari pemilik kepentingan atas kebijakan pembangunan daerah.


    Jangan sampai setiap kali warga bertanya tentang jalan, jawaban yang diterima hanya:


    “Sudah dianggarkan.”


    Lalu tahun berikutnya kembali:


    “Masih dalam perencanaan.”


    Dan tahun berikutnya lagi:


    “Akan segera direalisasikan.”


    Jika pola tersebut terus terjadi tanpa realisasi yang jelas, wajar apabila masyarakat mulai bertanya: apakah pembangunan ini benar-benar menjadi prioritas atau hanya menjadi janji yang diwariskan dari tahun ke tahun?


    Azuardi berharap pemerintah tidak menutup telinga terhadap suara masyarakat Matang Suri.


    “Yang kami minta bukan kemewahan. Kami hanya ingin jalan yang layak. Kami ingin pemerintah hadir dan membuktikan bahwa suara masyarakat memang didengar,” pungkasnya.


    Kini bola berada di tangan pemerintah.


    Warga sudah bicara.

    Tokoh masyarakat sudah bersuara.

    Keluhan sudah disampaikan.


    Tinggal menunggu satu hal:


    BUKAN LAGI JANJI, TETAPI BUKTI.


    Jurnalis: Revie Achary

    Editor: Hendra, E S.H.

    GNTV INDONESIA

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +