SAMBAS — GNTV INDONESIA, KALBAR.
Isu dan tuduhan bernada negatif yang diarahkan kepada keberadaan Genk Terminal mendapat tanggapan langsung dari Revie Achary.
Dalam keterangannya kepada awak media pada Kamis, 27 Agustus 2026, di Office Terbuka Terminal Sambas, Revie menjelaskan bahwa Genk Terminal bukanlah kelompok yang dibentuk untuk kepentingan tertentu sebagaimana tuduhan yang beredar di belakang layar.
Menurut Revie, Genk Terminal merupakan sebuah perkumpulan masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang berdomisili di wilayah Kabupaten Sambas, dengan latar belakang dan kapasitas yang beragam.
BERANGGOTAKAN BERBAGAI LATAR BELAKANG
Revie menyebut, orang-orang yang berada dalam lingkungan Genk Terminal berasal dari berbagai profesi dan bidang keahlian, antara lain:
- Aktivis LSM
- Jurnalis
- Praktisi atau ahli hukum pidana dan perdata
- Intelektual dan cendekiawan
- Akademisi dan politisi
- Tokoh masyarakat dan tokoh adat
- Sopir dan buruh
- Pelaku usaha kecil dan menengah
- Individu dengan keahlian di bidang supranatural
“Siapa pun yang mengatakan Genk Terminal dengan bahasa negatif, sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini dilakukan Genk Terminal,” tegas Revie Achary.
Ia menilai, perbedaan pandangan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk memberikan stigma atau membangun persepsi negatif terhadap suatu kelompok masyarakat.
DARI APBN HINGGA KONFLIK AGRARIA
Lebih jauh, Revie menjelaskan bahwa pembahasan yang berkembang di lingkungan Genk Terminal mencakup berbagai persoalan publik dan daerah.
Mulai dari APBN, APBD, APBDes, bantuan sosial, hibah, konflik agraria, hak kemitraan perkebunan hingga persoalan legalitas pertambangan.
Menurutnya, keberagaman latar belakang anggota justru menjadi kekuatan dalam melihat persoalan daerah dari berbagai perspektif.
“Genk Terminal merupakan perkumpulan yang memiliki kemampuan berpikir dan kapasitas untuk berdialog secara terbuka terhadap berbagai persoalan dan kendala daerah,” ujarnya.
SIAP BERDIALOG DENGAN PEMDA SAMBAS
Revie juga menegaskan bahwa keberadaan Genk Terminal tidak dimaksudkan untuk menggantikan kewenangan pemerintah daerah.
Sebaliknya, menurut dia, kelompok tersebut membuka ruang komunikasi apabila Pemerintah Kabupaten Sambas membutuhkan masukan dari masyarakat.
“Untuk kepentingan itu, Genk Terminal membuka diri dan siap manakala Pemda Kabupaten Sambas memerlukan masukan, advis, terobosan ataupun ide solutif terhadap persoalan daerah yang selama ini belum mampu diselesaikan secara optimal,” katanya.
Ia berharap ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah dapat dibangun secara terbuka, rasional dan berbasis data.
KRITIK BUKAN MUSUH PEMERINTAH
Keberadaan kelompok masyarakat yang aktif menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika demokrasi.
Kritik terhadap APBN, APBD, APBDes, perizinan, pengelolaan sumber daya alam maupun kebijakan pemerintah harus ditempatkan sebagai bagian dari kontrol sosial sepanjang disampaikan secara bertanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, Revie berharap setiap tuduhan terhadap Genk Terminal tidak berhenti pada narasi di belakang layar, tetapi dapat dibawa ke ruang dialog secara terbuka.
“Kami terbuka untuk berdialog. Kalau ada yang menilai Genk Terminal negatif, silakan sampaikan secara terbuka dan mari kita dudukkan persoalannya berdasarkan data serta fakta,” tegasnya.
Revie menambahkan, Genk Terminal akan terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai pihak demi kepentingan masyarakat Kabupaten Sambas.
“Kami tidak ingin menjadi bagian dari persoalan. Kami ingin menjadi bagian dari solusi,” pungkas Revie Achary.
Genk Terminal Bukan Takut Hukum Tapi Lawan Ketidakadilan
Dengan Kata " Walaupun Esok Hari Langit Akan Runtuh " BUKTI LEBIH TERANG DARI CAHAYA ®®®
Jurnalis : Hendra E SH.

