GNTV INDONESIA, SINTANG || Sebuah unggahan video dari akun TikTok @ayahnaureen05 menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah menampilkan aktivitas dugaan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Dalam caption video tersebut, pemilik akun menyebut kebisingan mesin-mesin jek yang digunakan para penambang terdengar hingga masuk ke dalam rumah warga di sekitar bantaran Sungai Kapuas.
Unggahan itu kemudian ramai ditonton dan dibanjiri komentar dari warganet dengan beragam pandangan yang saling berseberangan.
Sebagian warganet menyoroti dampak lingkungan dan kebisingan yang ditimbulkan aktivitas PETI, sementara sebagian lainnya menilai penambangan emas merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat.
Warganet Soroti Dampak Lingkungan dan Kebisingan
Salah satu komentar yang banyak disorot datang dari akun @Hery Jill 🌀 yang menyinggung dampak PETI terhadap ekosistem Sungai Kapuas.
"ngerusak sungai dan habitat nya boss.. sungai jadi dangkal dan mudah banjir kalau dah hujan lebat," tulis akun tersebut.
Akun @Ratnawati juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi air sungai yang dinilai semakin keruh akibat aktivitas penambangan.
"jangan sampai dekat lingkungan rumah aku Jak, tetap aku ngamok. sungai Kapuas sekarang sudah kayak lumpur. kalau cari rejeki tetapi semua orang kena imbas nyaaa, oooo maaf. yee," tulisnya.
Sementara itu, akun @Denny mempertanyakan langkah pemerintah daerah dalam menangani aktivitas PETI yang dinilai mengganggu jalur transportasi air dan lingkungan hidup.
"kenapa pemerintah daerah tidak bertindak itu kan merusak jalur transportasi sungai dan lingkungan hidup Seharus nya di ada kan penertiban," ungkapnya.
Sebagian Warganet Membela Penambang
Di sisi lain, sejumlah pengguna TikTok memberikan pandangan berbeda dengan menilai aktivitas PETI tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan ekonomi warga.
Akun @lumer12345 menuliskan komentar singkat mengenai alasan mencari nafkah.
"namanya jg cari mkn asal jgn mencuri tlg jgn di post," tulisnya.
Akun @Andi Sintang12. turut mengajak masyarakat menjaga situasi agar tetap kondusif di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit.
"buat lah suasana aman dan tentram. apa LG ada keluarga kita yg ikut mencari napkah di situ. selama TDK meroboh kan rmh dan tempat umum dan paselitas negara. aman" aja. lh. ya," katanya.
Sementara akun @DUTA BENUA membandingkan kebisingan mesin PETI dengan suara kendaraan yang melintas di jalan raya setiap hari.
"di sintang suara motor mobil di jalan dari jam 6 sampai jam 6 itu juga membisingi dan sudah berlansung bertahun tahun apakah pengendara motor mobil itu harus di hukum dan di demo, inti nya begini kalau hukum dan aturan di buat sekehendak perut pasti pertumpahan darah akan terjadi," tulis akun tersebut.
Dalam komentar lainnya, akun yang sama menilai komoditas emas memiliki kontribusi besar terhadap roda perekonomian di wilayah Sintang.
"sintang itu bisa se kaya dan dr makmur sekarang itu karena emas, kalau hasil noreh dan hasil cari ikan jangan kan memakmurkan kan kota memakmur kan keluarga nya pun tidak bisa dan kalau soal pejabat mereka itu di beri gajih bukan pemberi gajih," tambahnya.
Sindiran dan Tuduhan Ikut Mewarnai Perdebatan
Perdebatan di kolom komentar tidak hanya membahas masalah ekologi dan mata pencaharian, tetapi juga diwarnai sindiran hingga tudingan dari para pengguna jalan.
Akun @ERA JUSTI 🙏😇 menuliskan komentar bernada kritik terhadap alasan klasik mencari makan.
"ah mana ada cari makan kian tu dah gila harta maka sibuk ngejek sana sini udah dak bisa ngeramput pakai bahasa cari makan, orang kerja emas tu semua mau cepat kaya, omongkosong?!!!!😂😂," sindirnya.
Akun @Abang*winn mempertanyakan dugaan adanya alokasi kompensasi bagi warga sekitar lokasi penambangan.
"uang bising kan ada uwang desa kan ada apa ndk di bagikan ke masarakat setempat," tulisnya.
Komentar berdurasi panjang juga ditulis oleh akun @user6358245447104 mengenai dugaan pihak-pihak yang menikmati hasil dari operasional tambang emas tersebut.
"PETI itu yg menikmati hasil PETI itu segelintir orang saja seperti pemilik modal kariawan peti dan para penegak hukum dari Polsek,polres,Polda,Mabes polri sedangkan masyarakat yg di Ilir aliran sungai mendapatkan dampak dari peti itu tidak dapat menikmati air bersih,kebisingan dilingkungan Peti itu dan Sungai jadi Dangkal," tulisnya.
Redaksi mencatat bahwa pernyataan-pernyataan di atas merupakan opini pribadi pengguna media sosial dan belum dibuktikan melalui proses hukum maupun konfirmasi resmi dari instansi yang disebutkan.
Permintaan Agar Video Tidak Dipublikasikan
Di tengah tingginya dinamika komentar, beberapa pengguna justru meminta agar dokumentasi aktivitas PETI tidak terus disebarluaskan di platform publik.
Akun @Ayah Nining menulis pesan singkat meminta agar video tidak diunggah ke media sosial.
"maap jangan di posting di media brooo !!!!" tulisnya.
Akun @W04D.TurboDiesel menyampaikan pendapat dalam dialek lokal yang menyatakan tidak mempermasalahkan mata pencaharian orang lain dan menyebut aktivitas PETI akan berhenti saat debit atau kondisi air sungai berubah.
Sementara itu, isu politik lokal juga diungkit oleh akun @Didi Sulaiman.
"takut dulu pilkada mungkin dukungannya ini," tulisnya.
Akun @putramataram turut menuliskan komentar bernada nada sindiran mengenai keterlibatan kepala daerah.
"tidak apa apa bupatinya mengijinkan untuk peti, jadi bukalah sebanyak2nya kalau perlu sepanjang sungai itu tidak apa apa," tulisnya.
Keterangan tersebut murni tanggapan pengguna TikTok dan belum disertai bukti atau pernyataan resmi dari pemerintah daerah setempat.
Cerminan Perdebatan Isu PETI di Masyarakat
Ramainya kolom komentar pada unggahan akun @ayahnaureen05 memperlihatkan bahwa isu operasional PETI di sepanjang DAS Kapuas Kabupaten Sintang masih menjadi polemik kompleks di tengah warga.
Di satu sisi, sebagian masyarakat memandang aktivitas tersebut sebagai tumpuan ekonomi. Di sisi lain, kekhawatiran atas kebisingan, penceraman air, pendangkalan sungai, dan kerusakan ekosistem jangka panjang terus menyuarakan desakan penertiban.
Hingga berita ini diterbitkan, video tersebut masih beredar luas di platform TikTok dan terus menerima tanggapan dari netizen.***
Tim Red

