![]() |
| Wawancara dengan Korban Penipuan |
GNTV INDONESIA, MEDAN – Integritas perbankan di Sumatera Utara kembali berada di titik nadir. BRI Unit Cemara kini menjadi sorotan tajam setelah dugaan skandal pemalsuan identitas nasabah mencuat ke permukaan. Alih-alih memberikan klarifikasi, manajemen bank plat merah tersebut justru memilih jurus "bungkam" seribu bahasa.
Benteng Tertutup di Balik Meja Unit
Upaya konfirmasi yang dilakukan DPD Media Organisasi Siber Indonesia (MOSI) Sumut selama tiga kali kunjungan berakhir nihil. Kepala Unit BRI Cemara secara konsisten menolak menemui awak media, menciptakan kesan adanya sesuatu yang sengaja disembunyikan di balik dinding kantor mereka.
![]() |
| Tim Awak media ketika konfirmasi di Unit BRI Cemara |
Surat permohonan konfirmasi resmi yang dilayangkan DPD MOSI Sumut pun bak masuk ke lubang hitam—tak berbalas, tanpa kepastian.
"Utang Gaib" yang Menghantui Juliana
Nasib malang menimpa Juliana, warga Percut Sei Tuan. Tanpa pernah menyentuh uang sepeser pun, ia tiba-tiba "dihadiahi" tagihan sebesar Rp75.000.000. Skema kejahatan perbankan ini terbilang rapi; kredit dicairkan sejak 2023, namun korban baru mengetahuinya awal 2026 saat surat tagihan mendarat di rumahnya.
"KTP dan tanda tangan saya dipalsukan! Saya tidak pernah meminjam uang ke BRI Cemara," tegas Juliana dengan nada geram sekaligus syok.
Ancaman Pidana dan Desakan Audit Total
Kasus ini telah resmi bergulir di ranah hukum. Laporan Juliana kini tengah diproses oleh Polsek Medan Tembung di bawah bayang-bayang Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat, dengan ancaman pidana 6 tahun penjara.
DPD MOSI Sumut mengeluarkan pernyataan keras dan mendesak:
Transparansi Status Pegawai: BRI harus buka suara mengenai nasib oknum pegawai yang diduga terlibat. Apakah masih aktif atau sengaja "diamankan"?
Klarifikasi Kredit: Segera bersihkan nama baik Juliana dan batalkan status kredit ilegal tersebut.
Intervensi OJK: Mendesak OJK dan BRI Pusat untuk melakukan audit investigatif menyeluruh terhadap BRI Unit Cemara.
Preseden Buruk Dunia Perbankan
Sikap tertutup BRI Unit Cemara bukan hanya merugikan satu nasabah, tapi menjadi ancaman bagi kepercayaan publik terhadap sistem perbankan. Jika data pribadi warga bisa dengan mudah dieksploitasi oleh "orang dalam" tanpa ada pertanggungjawaban transparan, maka tidak ada lagi tempat yang aman bagi data kependudukan kita.
Transparansi adalah harga mati. Jika bank terus menutup mata, publik berhak bertanya: Siapa sebenarnya yang sedang mereka lindungi? (SS/Red)


