GNTV INDONESIA, SAMBAS || Menjadi penanda penting dalam perjalanan pembangunan Kabupaten Sambas. Bupati Sambas H. Satono, S.Sos.I., M.H. dengan visi kepemimpinan yang berlandaskan public virtue dan bonum commune (kebaikan bersama), meresmikan Jembatan Bailey Ramayadi di Desa Jawai Laut, Kecamatan Jawai Selatan sebuah jembatan strategis menuju kawasan wisata Batu Lapak , simbol pertemuan antara infrastruktur, ekonomi rakyat, dan peradaban lokal. ( Tanggal 13 Januari 2026 )
Peresmian yang dihadiri Wakil Bupati Sambas H. Heroaldi Djuhardi Alwi, S.T., M.T., unsur Forkopimda, para Kepala Perangkat Daerah, Camat Jawai Selatan, serta undangan terkait lainnya, mencerminkan prinsip "collaborative governance". Jembatan Bailey dengan panjang 24 meter, lebar 4 meter , dan kapasitas beban 12 ton ini kini dapat dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat sebuah solusi konkret atas kebutuhan mobilitas warga dan akses pariwisata yang berkelanjutan.
Secara filosofis, pembangunan jembatan adalah metafora klasik tentang "bridge of civilization " menghubungkan yang terpisah, mempercepat yang tertinggal, dan memuliakan hak warga atas konektivitas. Dalam kerangka hukum, langkah ini sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Juga selaras dengan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah khususnya mandat pelayanan dasar dan pembangunan infrastruktur untuk kesejahteraan masyarakat.
Bupati H. Satono menunjukkan kepemimpinan yang " pragmatic yet ethical " tegas dalam kebijakan, halus dalam pendekatan sosial. Infrastruktur tidak hanya dibaca sebagai beton dan baja, tetapi sebagai SOCIAL CAPITAL yang membuka peluang ekonomi, memperkuat pariwisata lokal, dan menghidupkan UMKM. Akses menuju Batu Lapak kini bukan sekadar jarak yang ditempuh, melainkan harapan yang diraih.
Lebih jauh, peresmian ini harmonis dengan program Presiden Republik Indonesia H.Prabowo Subianto yang menempatkan infrastruktur sebagai fondasi keadilan pembangunan. Infrastructure follows people , bukan sebaliknya. Pesan moralnya jelas: negara hadir ketika rakyat membutuhkan, dan pemerintah daerah menjadi CUSTODIAN kepentingan publik.
Dengan gaya kepemimpinan yang Elegant, Decisive, dan berorientasi masa depan, Jembatan Bailey Ramayadi berdiri sebagai monumen niat baik ( good will ) dan kebijakan berbasis nilai. Membacanya menghadirkan rasa senang, karena di sana ada kerja nyata, etika publik, dan keyakinan bahwa pembangunan yang adil selalu dimulai dari keberanian menghubungkan manusia dengan manusia, desa dengan kota, hari ini dengan masa depan.
JURNALIS : Revie

